--> Skip to main content

Selain nasi anjing, ternyata ada juga nasi monyet sampai nasi jangkrik

esokpagi.com - Kamu masih ingat dengan Nasi Anjing yang ramai diperbincangkan baru-baru ini? Ternyata bukan hanya nasi anjing, Indonesia punya nasi dengan nama hewan lainnya. Setidaknya ada 5 nasi dengan nama hewan yang ada di Indonesia.

Masyarakat Indonesia ramai membahas nasi anjing yang dibagikan sebagai bantuan di Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Minggu (26/4) dini hari. Nasi anjing menghadirkan logo kepala anjing di bungkusnya. Terselip pula jargon "Nasi Anjing, nasi orang kecil, bersahabat dengan nasi kucing. #jakartatahanbanting."

Banyak orang mempersepsikan negatif nasi anjing. Sebab anjing bukanlah hewan yang halal dikonsumsi dalam agama Islam. Namun menilik sebutan nasi dengan embel-embel nama hewan sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.

Berikut 5 nasi dengan menggunakan nama hewan


1. Nasi Anjing


Masih terkait nasi anjing, nasi yang dibagikan gratis ini dibungkus menggunakan kertas nasi. Ukurannya sedikit lebih besar dari nasi kucing, sehingga pemilik memilih menamainya nasi anjing.

Alasan lain adalah karena anjing merupakan hewan yang setia. Di akun Instagram @nasianjing juga tertulis kalau tidak ada anjing yang dipakai dalam proses pembuatan masakan ini.

Mereka mengatakan pembuatan nasi anjing seluruhnya memakai bahan halal. Berupa nasi hangat yang diberi topping bakso sapi, sosis sapi, teri, cumi, dan lainnya.

2. Nasi kucing


Nasi kucing menjadi patokan pemilik nasi anjing menamai produknya dengan nama 'anjing'. Nasi kucing memiliki porsi yang sedikit seperti diperuntukkan untuk kucing. Tampilannya sama-sama dibungkus kertas nasi atau daun pisang.

Di atas nasi putih ditambahkan lauk seperti ikan, tempe, dan sambal. Beberapa nasi kucing juga dikemas dengan lapisan daun pisang. Makanan ini umum dijual di angkringan-angkringan Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Begitupun angkringan yang ada di kota lain.

Biasanya nasi kucing dimakan bersama aneka lauk sate. Ada sate ati ampela, usus ayam, telur puyuh, kerang, hingga paru sapi. Versi kekinian juga terdapat sate otak-otak, crabstick, dan aneka fish cake lainnya.

3. Nasi macan


Masih dari Yogyakarta, ada nasi macan atau sego macan yang tak kalah populer. Disebut nasi macan karena porsinya lebih besar dari nasi kucing, kira-kira tiga kali lipat. Lauk pendampingnya juga lebih beragam.

Nasi macan biasanya dibungkus daun pisang seperti nasi bakar, lalu dibakar sesaat sebelum disajikan. Aromanya wangi karena juga diselipi daun kemangi. Makin nikmat dengan tambahan lauk seperti oseng-oseng jagung muda, bihun, dan sambal teri. Meski begitu, pembeli juga bisa menambah lauk lain untuk menikmati nasi macan.

Penjual nasi macan enak lainnya ada di Bondowoso, Jawa Timur. Namanya Nasi Macan Bu Banjir. Porsinya jumbo dengan sambal tomat yang pedas menyengat. Lauk nasi macan di sini ada tempe, lele, sampai cumi goreng yang nikmat.

4. Nasi monyet


Nasi monyet adalah nasi khas Desa Wisata Kandri, Gunungpati, Semarang. Nasi monyet punya sebutan lain yang populer, sego kethek. Nasi ini dibungkus daun jati dengan lauk ikan teri, belut, oseng daun pepaya, tahu tempe, ikan asin, sampai telur dadar.


Sego kethek erat kaitannya dengan budaya karena menjadi bagian dalam sesaji Rewanda. Nantinya sego kethek disusun membentuk gunungan untuk kemudian diperebutkan masyarakat.

Dinamai monyet karena di Goa Kreo memang banyak monyet yang hidup. Salah satu sesepuh Desa Kandri mengatakan nasi monyet sudah ada sejak 2010. Meski sederhana, nasi monyet sukses jadi identitas objek wisata Desa Kandri. Sayangnya nasi monyet hanya ada pada acara-acara tertentu.

5. Nasi jangkrik


Terakhir, nasi nama hewan ini ada di Kudus, Jawa Tengah. Namanya nasi jangkrik yang konon merupakan makanan favorit Sunan Kudus dan Kiai Telingsing.


Nasi jangkrik salah satunya dijajakan di bilangan Jalan Sunan Kudus. Adalah warung tenda 'Kuliner Nasi Jangkrik Godong Jati Khas Menara' yang menyajikan nasi jangkrik dari sore hingga tengah malam.

Ciri khasnya, nasi dibungkus daun jati. Untuk lauknya ada potongan daging kerbau ukuran dadu, tahu, serta guyuran kuah bersantan. Konon nama jangkrik dipakai karena dulu istri Sunan Kudus memasak sebuah menu untuk disajikan pada para tamu.

Di saat menyantap menu, ada yang menyeletuk kata 'jangkrik, masakan opo iki, kok enake pol'. Celetukan yang memuji betapa enaknya rasa menu itu, konon menjadi cikal bakal penamaan 'nasi jangkrik'.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar